EconomicReview-PT. Jamkrindo Syariah mencatatkan pertumbuhan aset sebesar 41,92% di tahun 2019. Pertumbuhan tersebut dikarenakan adanya setoran modal dari pemegang saham yang terealisasi di tahun 2019 sebesar Rp. 175 milyar dan penerimaan Imbal Jasa Kafalah sebesar Rp. 295,32 milyar.

Direktur Utama PT JamSyar Gatot Suprabowo memaparkan, penambahan tersebut mengakibatkan pertumbuhan dana kelolaan Jamsyar, dimana pada periode tersebut ditempatkan pada instrumen investasi yang berupa Deposito dan SBSN (Surat Berharga Syariah Negara).

Dilanjutkan Gatot, tercatat nilai deposito dan SBSN di akhir tahun 2019 masing-masing sebesar Rp 495,24 milyar dan Rp 163,65 milyar. Komposisi tersebut ditetapkan untuk mencapai target pendapatan investasi dan memenuhi kebutuhan likuiditas terkait pembayaran kewajiban perusahaan.

Di samping itu, komponen asset lain yang cukup signifikan adalah Biaya Dibayar di Muka dan Aset Lain-Lain. Biaya Dibayar di Muka tersebut sebagian besar merupakan biaya penjaminan ulang/re-asuransi atas penjaminan yang belum jatuh tempo dan belum diakui sebagai biaya pada komponen laba (rugi).

Di sisi liabilitas, komponen liabilitas terbesar adalah Pendapatan Ditangguhkan, yaitu sebesar Rp 448, 83 milyar. Pendapatan Ditangguhkan tersebut tumbuh sebesar 24,14% dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

“Hal ini sekaligus menunjukkan bisnis penjaminan Jamsyar di tahun 2019 mengalami
pertumbuhan dibanding tahun sebelumnya dan terdapat penjaminan berjangka waktu lebih dari satu tahun. Di samping itu, cadangan klaim juga meningkat sebesar 32,92% dari tahun
sebelumnya. Cadangan klaim tersebut ditingkatkan untuk mengantisipasi terjadinya kenaikan biaya klaim di masa yang akan datang,” jelas Gatot.

Adapun di sisi ekuitas terjadi pertumbuhan sebesar 63,80% dari tahun sebelumnya. Selain karena adanya penambahan modal, pertumbuhan ekuitas juga disebabkan oleh adanya kenaikan cadangan umum dan saldo laba dari laba tahun 2019.

Terkait laba, Direktur Keuangan, SDM dan Umum, Endang Sri Winarni menjelaskan laba tahun berjalan Jamsyar pada tahun buku 2019 adalah sebesar Rp36,57 miliar atau tumbuh sebesar 62,25% dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Pertumbuhan laba tersebut didukung oleh pertumbuhan pendapatan penjaminan dan pendapatan investasi masing-masing sebesar 42,93% dan 82,54%.

“Di samping itu, terdapat pendapatan subrogasi yang cukup signifikan, sehingga meskipun beban klaim cukup besar, namun penjaminan bersih tetap tumbuh dengan baik,” kata Endang.

Lakukan Penguatan Teknologi Informasi

Kinerja keuangan Jamsyar cukup cemerlang menambah optimisme untuk meraih sukses yang lebih gemilang di tahun 2020. Dan untuk mencapai target tahun 2020 yang cukup menantang, Jamsyar menerapkan strategi “Peningkatan Profitabilitas Melalui Perkuatan Teknologi Informasi & SDM Unggul”.

“Perkuatan Teknologi Informasi dilakukan dengan perluasan penjaminan online. Penjaminan online pada tahun
sebelumnya baru dilakukan untuk produk Penjaminan FLPP (Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan) dan Penjaminan KUR iB (Kredit Usaha Rakyat Syariah). Pada tahun 2020, penjaminan online akan dilakukan untuk seluruh produk Jamsyar. Di samping dari sisi
perluasan penjaminan online, peningkatan pemanfaatan Teknologi Informasi untuk
memperkuat daya saing bisnis adalah dengan melakukan pengembangan aplikasi e-klaim,” terang Endang.

Ia melanjutkan, Aplikasi e-klaim yang diintegrasikan dengan aplikasi penjaminan memungkinkan mitra penerima jaminan untuk lebih mudah dalam mengajukan klaim penjaminan. Dari sisi internal, untuk mendukung peningkatan TI tersebut, maka Jamsyar juga akan memperkuat data center
dan Infrastruktur Jaringan.

Di samping peningkatan TI untuk meningkatkan kualitas layanan penjaminan,
peningkatan TI juga dilakukan untuk meningkatkan efisiensi proses di support system. Pengembangan aplikasi untuk support system yang dilakukan di tahun 2020 adalah
pengembangan aplikasi pengelolaan dokumen, aplikasi pengelolaan asset dan inventaris
perusahaan, serta aplikasi pengadaan barang/jasa berbasis online (e-procurement).

“Dengan ketiga aplikasi tersebut diharapkan dokumen dapat terkelola dengan baik sehingga akan memudahkan proses kegiatan perusahaan, asset perusahaan dapat termonitor dengan baik, dan proses pengadaan menjadi lebih transparan dan efektif sehingga diperoleh barang atau jasa yang sesuai dengan kebutuhan dengan harga yang relative lebih murah,” ungkap Endang.

Di samping ketiga aplikasi tersebut, Jamsyar juga akan mengembangkan aplikasi
investasi sehingga investasi dapat dievaluasi dengan lebih mudah. Pada akhirnya diharapkan pengelolaan investasi dapat menjadi lebih baik, dan dapat meningkatkan yield of investment.

Selain itu, untuk memperkuat pengelolaan SDM, Jamsyar akan mengembangkan aplikasi
penggajian, pelatihan dan penilaian kinerja. Dengan pengembangan aplikasi tersebut, maka
proses penggajian menjadi lebih cepat dan akurat.

“Dengan aplikasi pelatihan dan penilaian maka
talent perusahaan dapat terdata dengan baik, sehingga proses pengambilan keputusan terkait
dengan pengembangan dan mutasi maupun promosi dapat dilakukan dengan lebih obyektif dan lebih tepat,” lanjut Endang.

2020, Optimalkan Pasar Jabodetabek

Terkait strategi dalam bidang bisnis yang diterapkan Jamsyar di tahun 2020 adalah perluasan jaringan pemasaran dan penambahan mitra Penerima Jaminan untuk produk penjaminan eksisting.

Jaringan pemasaran diperluas dengan meningkatkan status Kantor Unit Pelayanan (KUP) menjadi Kantor Cabang, membuka Kantor Unit Pelayanan baru, dan Kantor Pemasaran (KP) serta membuka Kantor Cabang Utama (KCU) di Jakarta. Peningkatan status KUP
diharapkan dapat mempercepat proses penjaminan di wilayah tersebut, sedangkan pembukaan KUP dan KP baru diharapkan dapat mendukung perluasan wilayah pasar sasaran.

Dipaparkan Gatot, adapun tujuan pembukaan KCU yang mempunyai wilayah kerja Jabodetabek adalah untuk mengoptimalkan pasar Jabodetabek yang cukup besar potensinya.

“Selain perluasan jaringan, Jamsyar juga menambah jumlah produk yang ditawarkan. Di
tahun 2020, produk baru yang akan dilaunching adalah produk penjaminan LC (Letter of Credit) dan SKBDN (Surat Kredit Berdokmen Dalam Negri),” lanjut Gatot.

Dipaparkannya, penjaminan tersebut ditujukan untuk mendukung kegiatan perdagangan baik dalam maupun luar negri, sehingga peran Jamsyar dalam mendukung pertumbuhan ekonomi menjadi semakin besar. Produk lainnya adalah penjaminan pembiayaan Fintech atau yang lebih dikenal dengan nama Peer to Peer Lending.

“Hal ini sejalan dengan berkembangnya teknologi di bidang pembiayaan, dimana potensi pertumbuhan bisnis baru ini dipandang cukup besar. Dengan tambahan produk baru tersebut, maka komposisi portofolio penjaminan semakin bertambah banyak, dan diharapkan risiko portofolio semakin terdiversifikasi. Dengan adanya
efek korelasi, maka risiko secara portofolio diharapkan akan menjadi lebih kecil, sehingga rasio klaim akan menurun,” tutup Gatot. (Olifia)