EconomicReview– Menteri BUMN Erick Thohir mempercayakan Agus DW Martowardojo menjadi Komisaris Utama PT Bank Nasional Indonesia (Persero) Tbk. Mantan menteri keuangan dan gubernur bank Indonesia ini dinilai tepat dan akan membuat persaingan di sektor perbankan akan semakin menarik.

Agus Marto resmi menjadi Komut BNI usai Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang dilakukan perusahaan hari ini, Kamis (20/2).

“Dengan pengalaman Pak Agus DW Martowardojo di dunia perbankan, kita harapkan bisa bekerjasama dengan Direksi dan menjadokan BNI sebagai Bank BUMN yang lebih besar lagi,” kata Erick Thohir.

Sosok Agus Marto yang sebelumnya pernah sukses menggawangi sejumlah bank dinilai akan membawa pola-pola yang sebelumnya sukses diterapkan di institusi lain. “Mungkin patern-patern akan dia bawa dari pengalaman beliau. Akan bersaing makin keras antarbank-bank bumn,” ujar pengamat sektor keuangan dan perbankan, Ruslan Prijadi, Jumat (21/2).

Dosen Strategik Manajemen Universitas Indonesia ini juga menilai sosok Agus Marto adalah sosok yang kompeten di dunia perbankan. Reputasi dan rekam jejaknya sudah sangat jelas dan teruji. “Kompetensi beliau tidak diragukan sama sekali. Tentu beliau kenal menteri keuangan, gubernur BI. Dan beliau merupakan sosok yang terkenal sangat involve,” ujar Ruslan.

Tak hanya kompeten, masuknya Agus Marto sebagai komisaris utama juga dinilai akan menjadi dorongan moral yang besar bagi jajaran eksekutif dan karyawan BNI. Sebab selama ini, Agus dikenal sebagai seorang yang selalu mampu terlibat dalam berbagai urusan organisasi. Bahkan saat menjadi Direktur Utama Bank Mandiri dia mampu menjalin relasi kuat dengan seluruh karyawan, bahkan hingga level terbawah.

“Pak Agus sangat involve ke berbagai hal. Kenal pegawai, sampai kenal lama. Pasti akan memberi boost yang sangat luar biasa bagi ekskutif dan karyawan lain (di BNI),” kata Ruslan.

Namun Ruslan juga menggarisbawahi tantangan yang bakal dihadapi Agus. Menurutnya, perkembangan perbankan saat ini sudah jauh berbeda dibanding saat Agus masih aktif sebagai eksekutif bank. Kini, perkembangan telah bergeser ke arah digital. Bank kini dituntut bersaing atau berkolaborasi dengan sektor finansial teknologi atau fintech.

“Tantangan sekarang berbeda dengan masa lalu. Sekarang tantangannya adalah digitalisasi. Apakah (Agus) sudah siap dan bagaimana strategi kedepannya?” ujarnya.

Karena itu, Ruslan merasa tantangan terbesar bank BUMN juga ada di level eksekutif. “Banknya sendiri yang harus mengembangkan di tingkat eksekutifnya. Memang tantangan terbesar digitalisasi. Perbankan sekarang harus insiasi kolaborasi dengan fintech, atau mengembangkan sendiri, dan merekrut tenaga kerja yang terkait digitalisasi. Bahkan sekarang banyak bank yang direksinya dari IT. itu yang lebih menentukan,” ujar Ruslan. (Olifia)