EconomicReview-Pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan akan melambat secara marginal menjadi 4,9% pada tahun 2020, dari 5% pada tahun 2019, didukung oleh kebijakan
moneter yang akomodatif dan kebijakan fiskal yang ekspansif, menurut laporan terbaru ICAEW Economic Update: South-East Asia.

Tak hanya itu, pertumbuhan di seluruh kawasan Asia Tenggara juga diperkirakan akan melambat dari 5,1% pada tahun 2018 menjadi
4,5% pada tahun 2019 dan tetap tidak berubah pada tahun 2020, di tengah risiko tinggi
eskalasi ketegangan perdagangan. Pertumbuhan regional memang telah melambat sejak tahun 2018 dan tetap lamban pada Q3 2019, dengan pertumbuhan PDB di seluruh kawasan Asia Tenggara hanya naik 4,5% YoY dari 4,4% pada Q2 2019.

Konflik perdagangan AS-Tiongkok telah menjadi pendorong utama perlambatan ini. dalam pertumbuhan, dengan ketidakpastian perdagangan tetap menjadi hambatan utama bagi sektor manufaktur, ekspor, dan investasi. Demikian pula dengan pertumbuhan ekspor di Q3 2019 di Indonesia tetap sama pada tahun itu, meskipun perdagangan bersih yang positif mendukung pertumbuhan 5% YoY, yang secara umum tidak berubah dari kuartal sebelumnya.

Di lain pihak, komponen permintaan domestik di negara tersebut kurang positif, dengan
pelambatan yang tercatat pada konsumsi swasta, pengeluaran pemerintah, dan
pertumbuhan investasi tetap pada kuartal terakhir. Ekspor bersih diperkirakan akan menjadi penghambat pertumbuhan pada tahun 2020 dengan latar belakang pertumbuhan global yang lamban, permintaan domestik Tiongkok yang lemah, dan ketidakpastian kebijakan seputar ketegangan perdagangan AS-Tiongkok.

Selain itu, pengendalian impor yang
berlanjut dari tahun 2018 dan pendapatan ekspor yang lemah juga akan menghambat
pertumbuhan investasi jangka pendek.

ICAEW Economic Advisor dan Oxford Economics Lead Asia Economist, Sian Fenner
mengatakan, meskipun telah ada beberapa kemajuan dalam pembicaraan antara AS dan
Tiongkok, ketegangan antara kedua negara tetap tinggi dan sebagian besar tarif yang
dikenakan tidak mungkin dihapus dalam waktu dekat.

“Di samping permintaan domestik
Tiongkok yang lebih lambat, kami melihat bahwa prospek ekspor regional dan investasi
swasta akan tetap menantang. Karenanya, kami memperkirakan pertumbuhan PDB Asia
Tenggara akan moderat hingga 4,5% pada tahun 2020, tetap sama dari 2019,” ujar Sian.

Kebijakan Moneter Dan Fiskal Jadi Solusi

Bank Indonesia (BI) memiliki ruang untuk mengeksplorasi penurunan suku bunga lebih
lanjut, sementara pemerintah sedang mengeksplorasi kebijakan fiskal yang ditargetkan, yang seharusnya dapat membantu mempertahankan konsumsi dan investasi.

Untuk bulan keempat secara berturut-turut, BI memangkas suku bunga acuannya pada bulan Oktober 2019 untuk lebih meningkatkan permintaan domestik dan rupiah telah berkinerja relatif baik karena posisi perdagangan yang stabil serta beberapa petunjuk pada kesepakatan perdagangan AS-Tiongkok. Meskipun demikian, mata uang tetap rentan terhadap perubahan sentimen investor dan lanskap global yang fluktuatif.

Selanjutnya, BI diperkirakan akan melakukan pemangkasan kebijakan suku bunga lebih
lanjut sebanyak 25 basis poin menjadi 4,75% pada Q4 2019, mengingat inflasi Indeks Harga
Konsumen (IHK) inti dan pasti, serta kondisi saat ini akibat pertumbuhan global yang lemah,
sebelum melakukan jeda panjang. Bank sentral juga diperkirakan akan tetap bergantung
pada data dalam menilai momentum ekonomi domestik dan global.

Pada langkah-langkah fiskal, pemerintah juga telah mengeluarkan peraturan tentang
pengurangan pajak utama yang bertujuan untuk meningkatkan bidang penelitian dan
pengembangan investasi serta pelatihan keterampilan. Selain itu, anggaran tahun depan
mencakup lebih banyak rencana pengeluaran untuk infrastruktur dan pengurangan tarif
pajak perusahaan dari 25% menjadi 20% pada tahun 2023, yang akan membantu mempercepat pertumbuhan investasi tahun depan dan dalam jangka menengah.

Indonesia diperkirakan akan mengalami defisit anggaran sebesar 2,1% dari PDB pada tahun 2019 dan 2,3% pada tahun 2020, masih berada dalam batas defisit anggaran konstitusional sebesar3% dari PDB.

“Kebijakan makroprudensial yang akomodatif dan pelonggaran moneter, serta langkah-
langkah fiskal ekspansif, diharapkan mencegah perlambatan signifikan dalam pengeluaran
swasta dan dampaknya terhadap pertumbuhan PDB Indonesia dalam menghadapi situasi
global yang lemah. Secara keseluruhan, kami memperkirakan pertumbuhan PDB Indonesia
tahun depan melambat menjadi 4,9% dari 5% pada tahun 2019, sejalan dengan prospek
yang lesu di seluruh kawasan,” papat ICAEW Regional Director, Tiongkok and Asia Tenggara, Mark Billington. (corry)