EconomicReview-Data RISKESDAS 2018 sebanyak 17,7 % anak Indonesia masih masuk dalam kategori gizi kurang dan buruk. Sedangkan 30.8 % anak Indonesia berkategori pendek dan sangat pendek. Penyebab utama, rendahnya tingkat konsumsi protein hewani.

Peran Penting Protein Hewani

Hal ini dipaparkan oleh Pakar Gizi Universitas Indonesia, Prof. Dr.dr. Saptawati Bardosono, M.Sc di acara Frisian Flag Indonesia MilkVersation

Yang mana, pemenuhan protein hewani menjadi sebuah keharusan, mengingat kandungan asam amino lengkap di dalamnya, yang berperan dalam mendukung pertumbuhan dan perkembangan individu secara maksimal.

Rendahnya tingkat konsumsi protein hewani berdampak bukan hanya terhambatnya pertumbuhan individu, tapi juga dapat berakibat rendahnya kualitas generasi penerus bangsa.

Prof. Bardosono, M.Sc, mengatakan, protein menjadi komponen utama dari jaringan tubuh. Protein merupakan senyawa kimia yang terdiri dari rangkaian asam amino (AA) dengan ikatan peptide.

Protein ditemukan dari 2 sumber, yaitu hewani dan nabati. Walau keduanya memiliki manfaat baik buat tubuh, namun kandungan asam amino serta struktur yang dimiliki oleh protein hewani khususnya daging sapi lebih unggul dari protein nabati.

Permasalahan Akibat Kekurangan Protein

Protein hewani mengandung asam amino esensial lengkap, yang berperan penting pada periode masa pertumbuhan, maupun fase kehidupan berikutnya.

Sementara, protein nabati tidak mengandung asam amino esensial yang lengkap.
Jika asupan protein hewani tidak terpenuhi dengan baik, akan berdampak pada kesehatan dalam berbagai aspek.

Mulai dari terhambatnya pertumbuhan penyebab stunting dan gangguan kognitif, anemia, gangguan kondisi fisik dan organ tubuh, kualitas tulang, gigi, rambut dan kulit. Hingga mempengaruhi emosi dan kesehatan mental seseorang.

Ini yang menyebabkan protein hewani berkualitas dengan asam amino lengkap menjadi kebutuhan primer. Serta bentuk investasi gizi dalam menjaga kesehatan jangka panjang.

Sumber protein terbaik berasal dari daging, unggas, dan ikan. Selain dari nabati khususnya kacang-kacangan seperti kacang merah dan kacang kedelai. Namun sumber protein hewani yang berasal dari susu sapi selain terbaik, juga murah dan praktis. Mengandung asam amino yang lengkap, formulanya yang berbentuk cair sangat mudah untuk diserap oleh tubuh. Terbukti, Digestible Indispensable Amino Acid Score (DIAAS) menempatkan susu sapi sebagai sumber protein terbaik.”

Susu dan Telur Alternatif Praktis dan Murah

Agar kebutuhan protein hewani tercukupi, kaum ibu wajib menyediakan produk susu sebagai stok bahan pangan. Susu menjadi solusi praktis, selain tersedia dalam beragam rasa dan formula, harganya relatif terjangkau.

Namun sayangnya, konsumsi susu masyarakat Indonesia masih terbilang rendah dari Thailand serta negara lainnya. Amerika menjadikan susu sapi sebagai minuman setiap hari, dari pagi, siang hingga malam hari, karena rasa susu di sana terbilang sangat enak. Untuk meningkatnya gairah minum susu, harus diproduksi varian susu yang lezat dengan beragam rasa.

Telur ayam menjadi bahan pangan sumber protein hewani yang murah. Agar tidak membosankan, buat variasi dengan beragam olahan. Daging sapi yang terkesan mahal dapat dikonsumsi minimal sebulan sekali, diantara waktu jeda dapat disajikan daging ayam atau jenis unggas lain karena harganya relatif lebih terjangkau. (corry)