Economic Review-PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Syariah Tbk (BTPN Syariah) baru saja dianugerahi penghargaan bergengsi Anugerah Perbankan Indonesia-VII-2018 (APBI-VII-2018). Perusahaan terbaik di kategori Buku 2 (modal inti = Rp 1 T s/d < 5T) ini, berharap akan menjadi perusahaan yang lebih baik lagi setelah terdaftar di BEI. BTPN Syariah memiliki visi menjadi bank syariah terbaik untuk keuangan inklusif dan mengubah hidup berjuta rakyat Indonesia. Karenanya, Perbankan Syariah ini memiliki model bisnis yang fokus dan unik, yakni menyalurkan pembiayaan tanpa agunan kepada perempuan dari keluarga prasejahtera produktif. BTPN Syariah menyadari, nasabah prasejahtera produktif tidak hanya membutuhkan akses pembiayaan untuk meningkatkan taraf hidup, melainkan juga pelatihan dan pendampingan melalui Program Daya. Direktur Utama BTPN Syariah, Ratih Rachmawaty mengatakan, selain memberikan solusi keuangan, BTPN Syariah juga melakukan program pendampingan. Program tersebut berkontribusi dalam meningkatkan kapasitas dan kedisiplinan debitur, sehingga NPF berhasil dijaga di bawah batas aman yang ditetapkan regulator. BTPN Syariah memberikan pendampingan secara berkelanjutan bahkan sejak calon nasabah belum mendapatkan pembiayaan. Sebelum memperoleh pembiayaan, calon nasabah diberikan edukasi agar mereka memiliki keberanian untuk berusaha, disiplin, mau bekerja keras dan solidaritas terhadap sesama. "Intinya mereka memahami bahwa kunci kesuksesan ada di diri mereka sendiri," ucap Ratih. Kinerja 2018 Di Atas Rata-Rata Industri

Hingga akhir Maret 2018, total aset BTPN Syariah mencapai Rp 9,5 triliun atau tumbuh 24,1 persen (yoy) dari periode yang sama tahun sebelumnya. Penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) mencapai Rp 6,7 triliun atau tumbuh 18,8 persen (yoy). Sementara pembiayaan yang disalurkan tercatat mencapai Rp 6,2 triliun atau tumbuh 21,9 persen (yoy) dari periode yang sama tahun sebelumnya.

Penyaluran pembiayaan dilakukan dengan tetap menjaga kualitas pembiayaan. Hal itu tercermin dari rasio pembiayaan bermasalah atau non performing financing (NPF) terjaga di level 1,67 persen. Porsi pembiayaan BTPN seluruhnya disalurkan kepada segmen usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Dengan kata lain pada kuartal I 2018 kinerja BTPN Syariah di atas rata-rata industri.

Ratih Rachmawaty menyebutkan, hingga akhir Juni 2018, BTPN Syariah membukukan pembiayaan Rp 6,87 triliun atau tumbuh 19,1 persen (year on year/yoy) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya senilai Rp 5,77 triliun. “Bisnis model kami unik, menyasar ibu-ibu dari kelompok prasejahtera produktif dengan nilai pembiayaan rata-rata Rp 2 juta per nasabah,” katanya.

Bisnis model yang dikembangkan BTPN Syariah dalam melayani segmen masyarakat prasejahtera produktif dinilai mendapatkan respon positif. Hal itu tercermin pada jumlah dana pihak ketiga (DPK) yang mencapai Rp 7,02 triliun, tumbuh 17,8 persen (yoy) dari posisi Juni 2017 sebesar Rp 5,96 triliun.

Tak hanya itu, BTPN Syariah mencatatkan pembiayaan pada kuartal III 2018 sebesar Rp 6,96 triliun atau tumbuh 21 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya. Sementara total asetnya meningkat 32 persen menjadi Rp 11,30 triliun.

Sekedar catatan, BTPN Syariah yang memiliki total jumlah nasabah lebih dari 3.3 juta di mana 100 persen nasabah pembiayaannya adalah perempuan prasejahtera produktif, juga melakukan pengukuran dampak sosial bagi nasabah pembiayaannya menggunakan Poverty Probability Index (PPI) dari Innovations for Poverty Action (IPA).