40 Sekolah di Inggris Menerapkan Larangan Baru

Economic Review – Setiap sekolah pasti memiliki peraturan berbeda, demikian juga setiap Negara. Hal tersebut juga diperlakukan oleh sekolah-sekolah di Inggris. Seperti baru-baru ini sebanyak 40 sekolah setingkat SMP di Inggris dilaporkan melarang murid perempuannya untuk mengenakan rok.

Seperti dilansir dari Russian Today Selasa (3/7/2018), salah satu sekolah yang menerapkan larangan itu adalah Priory School di Lewes, Sussex Timur. Kepala sekolah Tony Smith berkata, kebijakan tersebut diberlakukan karena dianggap netral gender, dan mengakomodasi siswa transgender.

Hal ini dikarenakan adanya siswa transgender yang menanyakan mengapa murid laki-laki dan perempuan harus mengenakan seragam sekolah yang berbeda. “Meski kecil, namun jumlah murid transgender selalu bertambah. Jadi, seragam yang sama sangat penting bagi mereka,” ungkap Smith pada September 2017 lalu.

SMP Copleston di Ipswich memasukkan rok sebagai salah satu item yang dilarang selain penggunaan jeans ketat dan tindik wajah. Sunday Times via The Independent memberitakan, semua murid di sekolah tersebut diharuskan mengenakan celana panjang berwarna abu-abu. Hampir sama dengan SMP Copleston, SMP Woodhey di Bury juga melarang penggunaan rok karena dianggap “memalukan dan tidak bermartabat” ketika siswi duduk di lantai.

Kebijakan itu mendapat kritikan dari kalangan feminis yang menyebut seharusnya siswa mendapat pilihan bawahan apa yang bisa mereka kenakan. Salah satunya adalah mantan penasihat era Presiden Amerika Serikat (AS) Bill Clinton sekaligus penulis, Naomi Wollf. “Saya kira memaksakan harus memakai celana merupakan kebijakan konyol. Dengan memberi mereka pilihan, para siswa bisa menemukan kenyamanan mereka,” tutur Wollf.

Selain itu, kecaman juga datang dari murid di SMP Philips, Bury. Mereka menandatangani petisi agar rok tetap diizinkan dipakai di tahun ajaran 2018-2019. Murid wanita di sana berujar mereka lebih nyaman pakai rok dan mereka khawatir jika harus menggunakan celana panjang secara terpaksa bisa “merusak mental” mereka. Selain itu, para orangtua murid juga menjelaskan mereka tidak diajak berkonsultasi oleh pihak sekolah terkait kebijakan tersebut. “Saya terkejut. Sebab, sekolah sama sekali tidak memberi penjelasan maupun mengajak kami berdiskusi,” kata Diane Burdaky, salah satu orangtua murid.

You may also like...

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com