Komitmen Asbakin Bantu Program KUR

(kiri-Kanan) Bendahara ASBAKIN Ardian Purwoseputro, Ketua Umum ASBAKIN Willy Alegra Sampoerna, dan Sekretaris ASBAKIN Antonius Bayu Putra

Economic Review-Tahun 2018 pemerintah menggelontorkan program Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebesar Rp 116 triliun. Pendanaan tersebut  menjadi ”Upaya untuk memacu pertumbuhan dan mendorong pemerataan ekonomi”. Demikian diungkapkan Presiden RI Joko Widodo di tengah pertemuan tahunan industri jasa keuangan di Grand Ballroom The Ritz Carlton Pacifik Place, SCBD, Jakarta Pusat Januari lalu.

Berangkat dari komitmen pemerintah tersebut,  serta didorong oleh keinginan untuk meningkatkan pemerataan ekonomi maka dibentuklah Assosiasi Bapak Angkat Indonesia (ASBAKIN).

Ketua Umum ASBAKIN Willy Alegra Sampoerna mengatakan bahwa ASBAKIN hadir untuk membantu pemerintah dalam menyalurkan KUR agar tepat sasaran dan memaksimalkannya. Hal ini salah satunya  berangkat  dari beberapa evaluasi dari pelaksanaan KUR sebelumnya, dimana ada gap antara bank dan para penerimanya.

“Kami berkomitmen untuk memangkas gap tersebut dan menjadi jembatan untuk melakukan sosialisasi, pembinaan, pendampingan serta pengawasan. Kami bukan bank sehingga masyarakat lebih terbuka dengan kami, sehingga prosesnya dapat lebih baik dan maksimal. Sehingga tujuan dari program yg telah dimulai sejak 2007 dapat maksimal dan lebih baik untuk kedua belah pihak,” papar Willy. Ditambahkan Willy, tahun ini pemerintah juga mengeluarkan terobosan-terobosan,  diantaranya KUR kelompok.

“Bapak Angkat”

Asosiasi yang berkantor di Jl. Melati Ampera Raya No.14A ini, merupakan wadah untuk para ketua KUR kelompok tersebut yang akan dinamai “Bapak Angkat” hal ini agar lebih  dapat diterima dan dekat dengan masyarakat yang menjadi sasaran penyaluran KUR.

“Didalam ASBAKIN ini para bapak angkat akan berbagi ilmu dan saling mengevaluasi sehingga KUR dapat lebih maksimal dan memberikan value added dalam berbagai hal  di masing-masing bidang usaha yang dibiayai” ungkap Bendahara ASBAKIN Ardian Purwoseputro.

Kedepannya menurut Ardian, ASBAKIN akan menggandeng beberapa institusi terkait untuk melakukan pelatihan-pelatihan yg diperlukan untuk menjadi “Bapak Angkat” sehingga SOP bisa terstandarisasi dengan baik.

“Membina UKM bukan hal yang mudah, harus mempunyai hati dan visi yang kuat. Selain itu kami mengharapkan pemerintah jangan hanya membentuk jargon. Karena pelaksanaan program ini harus berkesinambungan dan serius, karena kami ingin kedepannya ukm harus mampu bersaing menghadapi pasar bebas,” pungkas Ardian.

Kehadiran ASBAKIN diyakini mampu menjawab permasalahan-permasalaha yang terjadi dalam pemerataan ekonomi dan memacu pertumbuhan ekonomi.

Pada prakteknya ditambahkan Willy, apabila menengok daerah pelosok-pelosok desa, masih banyak masyarakat yang takut dengan petugas bank dengan tampilan berdasi mereka merasa inferior. Belum lagi carut-marut KTP menambah kesulitan kedua belah pihak.

“Disinilah peran ASBAKIN setelah mereka mendapatkan pinjaman pun jangan sampai penggunaannya menjadi kurang pas apalagi digunakan untuk konsumsi. ASBAKIN akan menjalankan perannya untuk melakukan  pendampingan. Tak hanya itu, kami juga akan mencarikan mitra petani yang adil jangan sampai semua proses benar tetapi waktu panen mereka menjual harganya jatuh dikarenakan rantai penjualan ini sangat panjang,” tegas Willy.

Ditempat yang sama Sekretaris ASBAKIN Antonius Bayu Putra mengharapkan kehadiran Asbakin dapat semakin didukung oleh para stake holder dibidang jasa keuangan. “Karena dengan dukungan segala pihak tujuan kita menjadi bangsa yang maju dan bermartabat on the track”

You may also like...

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com