Pertemuan Tahunan OJK Dihadiri Presiden RI

Economic Review – Sebagaimana sebelumnya, OJK kembali menggelar Pertemuan tahunan dan acara tersebut digelar di Ballroom Hotel Ritz Carlton, Pacific Place Jakarta dan dijadwalkan akan dihadiri oleh Presiden RI, Joko Widodo, direksi industri keuangan, Bank Indonesia, Menteri kabinet kerja hingga Gubernur se-Indonesia.

Untuk pertemuan tahunan kali ini, OJK mengusung tema “Memacu Pertumbuhan”. Selain itu Ketua Dewan Komisioner OJK, Wimboh Santoso juga akan membahas evaluasi kinerja industri keuangan periode 2017 dan outlook industri jasa keuangan 2018.

Selain dua hal tersebut di atas, juga akan dibahas tentang strategi OJK untuk mendorong industri jasa keuangan agar bisa tumbuh lebih baik di era digitalisasi. Hal penting yang menjadi fokus dalam pertemuan ini adalah bagaimana tantangan yang akan dihadapi industri keuangan.

Kondisi Industri Keuangan RI

Dalam acara tersebut, pria yang akrab disapa Wimboh ini juga memaparkan jika acara tahunan ini bertujuan agar memperkuat sektor jasa keuangan sehingga dapat memacu pertumbuhan dengan tetap menjaga stabilitas sistem keuangan. Selain itu, ini adalah momentum yang tepat untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi Indonesia di tengah kondisi makroekonomi dan sektor jasa keuangan yang kondusif.

“Kami yakin sektor jasa keuangan mampu mendukung pencapaian target pertumbuhan ekonomi tahun 2018 mendatang yakni sebesar 5,4 persen. Hal ini didukung oleh solidnya indikator sektor jasa keuangan, baik dari sisi pemodalan dan likuiditas, maupun tingkat risiko yang terkendali,” paparnya.

Berdasarkan hasil mengamatan OJK, sepanjang tahun 2017 suku bunga deposito turun 65 basis poin (bps) dan bunga kredit menyentuh angka 77 bps. “Reformasi struktural yang dilakukan pemerintah, telah berhasil meningkatkan kepercayaan investor. Ini menyebabkan arus dana masuk ke pasar modal domestik cukup besar, sehingga imbal hasil SBN mengalami penurunan,” papar Wimboh.

Wimboh juga menambahkan jika pertumbuhan ekonomi pada 2017 berada pada rentan 5% – 5,1%, nilai tukar Rupiah yang stabil, inflasi yang terbilang rendah di angka  3,61%, keseimbangan eksternal yang membaik ditandai surplus neraca perdagangan berada pada angka US$ 11,8 miliar, defisit APBN diangka 2,42% serta kecenderungan suku bunga yang terus menurun.

Masih menurut Wimboh, pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) meningkat dan tumbuh hingga 20% tahun lalu dan ditutup pada level tertinggi sepanjang sejarah yakni 6.355,65. Pertumbuhan ini lebih tinggi dibanding indeks saham Singapura, Thailand dan Malaysia.

Pertumbuhan ekonomi domestik ini juga sejalan dengan pemulihan kondisi ekonomi global, baik di negara maju maupun di negara berkembang, sehingga membuka peluang untuk perbaikan kinerja neraca pembayaran Indonesia di masa mendatang.

Momentum Genjot Perekonomian Indonesia

Acara yang dihadiri Presiden RI, Joko Widodo ini dimulai pukul 19.00 WIB. Dalam sambutannya, Presiden Jokowi mengatakan kondisi moneter Indonesia saat ini sudah baik dan sehat. “Stabilitas moneter kita saat ini bagus, fiskal kita juga baik artinya pengelolaan APBN kita baik, defisit APBN pun bisa ditekan. Kemudian IHSG kita sangat membaik, surplus neraca perdagangan juga membaik,” ungkap Jokowi.

Jokowi percaya dengan kondisi keuangan yang baik tersebut bisa dijadikan modal untuk merasa optimistis. “Jangan sampai optimisme itu hilang gara-gara isu yang bertebaran di media sosial.”

Meskipun demikian, Jokowi juga masih menyayangkan kondisi perekonomian Indonesia yang belum bisa “berlari” kencang. Dikarenakan masih banyak masalah yang perlu dibenahi agar Indonesia bisa menjadi negara maju.

Tetapi Jokowi juga menyampaikan kebanggannya melihat kondisi capaian lainnya seperti peringkat investasi (investment grade), peringkat kemudahan berusaha (EODB) dan peringkat utang yang semakin membaik di mata dunia.

Melihat kondisi ini, Jokowi meminta seluruh pemangku kepentingan terkait untuk memanfaatkan momentum agar dapat menggenjot perekonomian Indonesia agar lebih maju dan berkembang. “Coba kita lihat harga komoditas naik semuanya, batu bara naik, sawit naik. Artinya kondisi ekonomi Indonesia dinilai sehat. Lembaga-lembaga dunia tersebut melihat dan yakin dengan masa depan ekonomi Indonesia di amasa mendatang”, papar Jokowi. Indah

You may also like...

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com