Rumah Amalia Sambut Tahun Baru Hijriah Dengan Tiga Makna

Economic Review-Dalam rangka merayakan Tahun Baru Hijriah Pendiri Rumah Amalia Agus Syafii, yang dikenal sebagai rumah belajar bagi anak yatim dan duafa, menekankan merayakan Tahun Baru dengan kesederhanaan. Hal ini diyakininnya harus ditanamkan pada anak sedini mungkin, agar mereka lebih sadar akan makna tahun baru yang sesungguhnya.

“Rumah Amalia selalu merayakan Tahun Baru Islam atau Hijriah sejak 2012. Biasanya kegiatan Tahun Baru identik dengan hura-hura, tapi di sini kami ingin mengajarkan anak untuk lebih mendekatkan diri pada Allah. Salah satu upaya kami untuk mengenalkan anak arti kesederhanaan di Tahun Baru Hijriah ini, yakni dengan mengajak anak untuk berbuat baik dalam segala hal di hidupnya dari tahun ke tahun,” ungkap dia dalam acara Rasya, Rumah Amalia Sambut Hijriah di Tangerang,

Tahun Baru, ungkap Agus, harus dirayakan dengan pribadi lebih baik, mulai dari mendekatkan diri pada tuhan, peduli terhadap sesama, mengajarkan arti kebersamaan, berdoa bersama untuk masa depan yang lebih baik, dan hal positif lainnya. “Ada 80 anak di Rumah Amalia. Dalam acara inilah kami mengajak anak-anak berdoa, untuk negeri yang aman dan damai, dan masa depan mereka yang lebih baik. Dengan cara ini mereka bisa lebih menghargai segala hal dalam hidupnya,” ungkapnya.

Ditambahkan Agus, ada tiga makna utama dari momentrum hijrah hidup menjadi lebih baik yang diajarkan Rasulullah Saw yang dapat diterapkan dalam kehidupan masa kini. Pertama, memaknai hijrah Rasulullah sebagai hijrah insaniyyah sebagai transformasi nilai-nilai kemanusiaan. Perubahan paradigma masyarakat Arab setelah kedatangan Islam dan pola pikir mereka menunjukkan betapa sisi-sisi kemanusiaan dijadikan materi utama dakwah Rasulullah bahwa semua manusia memiliki derajat yang sama, hanya Allah satu-satunya Zat yang memiliki perbedaan dengan manusia.

“Itulah inti kalimat syahadat yang artinya tidak ada Tuhan yang patut disembah kecuali Allah. Pernyataan syahadat ini secara langsung mengeliminir segala macam perbudakan dan penguasaan atas seseorang,” kata Agus dalam siaran persnya, Ahad (24/9).

Kemudian kata Agus, kita harus memaknai momentum hijrah ini sebagai hijrah tsaqafiyyah, yaitu hijrah kebudayaan. Hijrah dari kebudayaan jahiliyyah menuju kebudayaan madaniyah. Kebudayaan yang sarat dengan makna dan kemuliaan sebagaimana diperlihatkan oleh Rasulullah dalam tata krama keseharian. Dalam pergaulannya, beliau menghargai dan menghormati semua orang dengan cara yang sama tanpa ada perbedaan. Bahkan lebih dari itu, beliau selalu bertindak sopan dan ramah kepada semua orang tidak pernah pandang bulu. Sebagaimana sabda beliau, ia diutus untuk menyempurnakan akhlak.

“Inilah sejatinya fondasi kebudayaan dalam kacamata Islam yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemuliaan. Termasuk di dalamnya adalah kebersamaan, gotong royong dan kesetiakawanan. Inilah nilai-nilai yang kini mulai lenyap dari kehidupan kita digantikan dengan individualisme dan kapitalisme,” paparnya.

Ketiga, lanjut Agus, memaknai hijrah sebagai hijrah islamiyyah, yaitu peralihan kepasrahan kepada Allah secara total. Momentum hijrah ini harus kita maknai sebagai upaya peralihan diri menuju kepasrahan total kepada Allah Yang Maha Kuasa.

Artinya setelah modernism menggiring kita kepada rasionalisme yang tinggi, hingga menyandarkan kehidupan kepada teknologi dan mengandalkan struktur sebuah sistem. Maka kini saatnya kita berbalik kepada Allah Yang Maha Pencipta. Sadarlah bahwasannya berbagai pertunjukan modernisme semata merupakan hasil kreatifitas manusia belaka.

“Oleh karenanya, marilah di awal tahun baru ini kita memulai hidup baru dengan paradigma yang baru sesuai dengan makna hijrah hidup menjadi lebih baik,” ujarnya.Dalam rangka merayakan Tahun Baru Hijriah ini, anak-anak juga diberi kesempatan menampilkan bakat dan minat mereka, mulai dari tarian, puisi, hingga teater.

You may also like...

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com