Pascasarjana USahid Gelar Dialog “Media dan Kebhinnekaan”

Economic Review-Tidak perlu diragukan lagi, kalau perkembangan teknologi komunikasi sangat berpengaruh di dalam kehidupan sehari-hari, terutama di bidang politik. Selain dapat menjalin komunikasi kita juga dapat meningkatkan wawasan karena banyak berita – berita update atau terbaru yang dapat diperolah dari media-media saat ini. Namun setiap kelebihan atau manfaat yang diberikan oleh adanya teknologi media maupun media sosial banyak juga kerugian yang dapat kita peroleh apabila kita tidak hati – hati dalam penggunaannya.

Melihat kondisi tersebut sekaligus dalam rangka memperingati Hari Jadi ke-20 Pasca Usahid dan Dies Natalis ke-29 Usahid Jakarta. Digelarlah kegiatan ‘Open House dan Seminar 2017’ ini yang berlangsung pada tgl.16 & 18 Februari, bertempat di Sahid Sudirman Residence lt.5, kampus Pasca Usahid.

Sejumlah tokoh dan akademisi ikut meramaikan gelaran dialog di hari pertama yang tema “Media dan Kebhinnekaan”. Adapun tokoh yang hadir antara lain KH Said Aqil Siraj (Ketua Umum PB NU), Fahruddin Faiz (Dosen UIN Sunan Kalijaga) Semarang, Benny Susetyo (pakar etika sekaligus Mahasiswa Doktor Ilmu Komunikasi Usahid), JA Wempi (pakar teks media alumni Doktor Ilmu Komunikasi Usahid), dan Frengki Napitupulu (praktisi budaya sekaligus Mahasiswa Doktor Ilmu Komunikasi Usahid). Sedangkan Khusus dialog hari kedua tema lebih santai, terkait dengan  media sosial dan wanita, remaja, dan entrepreneur.

“Gagasan kegiatan ini muncul dari keperihatinan kami sebagai masyarakat akademis atas kondisi media dan bangsa saat ini. Ekspresi kebebasan berpendapat di media sosial yang harusnya menjadi jejaring pertemanan, menggali potensi diri, dan mencari peluang bisnis. Kini berubah menjadi arena saling serang, penyebaran konten berita hoax dan sarana memperluas permusuhan”, ujar Dr.Rubiyanto,M.M selaku ketua panitia penyelenggara ‘Open House dan Seminar 2017’ Pasca Usahid.

Lebih lanjut Rubiyanto mengatakan “Mudah-mudahan buah pikir yang dihasilkan melalui kegiatan ini dapat bermanfaat bagi masyarakat, khususnya para peserta yang hadir berasal dari berbagai kampus di Jakarta. Selain mengenal lebih dekat Pasca Usahid yang memiliki program Magister Komunikasi, Magister Manajemen, dan Doktor Ilmu Komunikasi”.

Masyarakat Diikat Berdasarkan Adab & Budaya

Terkait penyelenggaraan seminar, berbicara Kebhinekaan Menuju Kedewasaan Literasi di Indonesia, Ketua Umum PB NU KH Said Aqil Siraj, mengatakan Tuhan sudah sedari asalnya menciptakan manusia beragam. Hal ini merupakan kehendak Allah SWT. Kebinekaan atau keberagaman ini merupakan sahih, Allah SWT sejak asalnya  yang harus dihargai dan disikapi dengan benar.

“Tak boleh kita mengurangi nilai keberagaman ini. Keberagaman ini adalah nilai tuhan. Kita memiliki masyarakat yang plural. Zaman Nabi Muhammad SAW pun, ia kala itu memutuskan muslim pendatang, muslim pribumi dan kaum Yahudi asalkan memiliki satu visi-misi, satu garis perjuangan, satu semangat, dan satu agenda sesungguhnya mereka satu kesatuan. Kesimpulannya, Nabi Muhammad sejak 15 abad lalu, telah mencoba dan berhasil membentuk sebuah masyarakat komunitas yang di ikat bukan berdasarkan agama, ataupun berdasarkan suku, namun masyarakat yang diikat berdasarkan adab dan budaya yang menjunjung tinggi persamaan dan keadilan,” terangnya

Ditambahkan Said Aqil Siraj, Negara  yang dibentuk oleh nabi Muhammad SAW bukan negara fanatik. Nabi tidak pernah mengatakan negara arab atau negara islam namun beliau mengatakan negara madina. Dimana seluruhnya dihadapan hukum adalah sama sifatnya, tanpa membedakan dan diperlakukan.

“Terkait akan kebinekaan ini, Nabi Muhammad menegaskan tidak boleh ada permusuhan, tidak boleh dianggap musuh, kecuali berdasarkan hal berikut; yakni orang yang zalim, pemimpin yang zalim, dan pelaku kriminal itulah musuh kita bersama. Maka tidak boleh ada permusuhan karena perbedaan agama suku apalagi beda pilihan gubernur. Semua dapat dipecahkan tanpa kekerasan, tanpa darah dan tanpa perperangan. Islam nusantara itulah islamnya nadatul ulama, islam as sunah dan orang indonesia sebenarnya.  Radikalisme itu asing bagi kita, radikalisme itu datang dari timur tengah, teroris juga datang dari timur tengah, pantang bagi kita ada islam radikalisme,” papar Said Aqil Siraj ditengah berlangsungnya seminar .

 

 

 

You may also like...

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com