Bank Boyolali Serius Garap Sektor UMKM

 2016-11-13-photo-00000573

Economic Review – Membenahi sektor sumber daya manusia (SDM) atau teknologi informasi (TI), dua pilihan itu yang dihadapi Dono Sri Hananto, SE, MM, ketika lulus uji kelayakan sebagai satu-satunya calon direktur utama di PD BPR Bank Boyolali, dua tahun lalu. Berbekal pengalaman selama 15 tahun malang melintang bekerja di bank umum nasional, Dono segera memutuskan membenahi TI.

“Saya punya prinsip, setelah TI dibenahi, SDM otomatis akan menyesuaikan. Kalau SDM dulu, butuh waktu lebih lama,” tutur Pak Dono, panggilannya, kepada tim Economic Review di Boyolali, Minggu (13/11).

Tim Economi Review bersama enam orang juri Anugerah Bank Perkreditan Rakyat Indonesia (ABPRI) IV/2016 hadir di kantor pusat Bank Boyolali yang terletak di tengah kota. Kepada tamunya, Pak Dono, yang juga menyabet trofi The Best Social CEO BPR 2016, menunjukkan semua ruangan kantor yang baru selesai direnovasi setahun lalu. Nuansa modern tampak nyata di setiap ruangan.

Bangunan kantor nyaman dan modern karena dilengkapi ruangan inventori data dan server yang representatif dengan prasarana tahan api dan tahan air. Secara khusus, TI Bank Boyolali termasuk yang paling baik dibandingkan koleganya karena digarap dengan sungguh-sungguh. Mereka sampai punya empat orang pegawai khusus di bagian TI. Mereka juga punya staf khusus audit internal.

2016-11-13-photo-00000572

Kini Bank Boyolali punya 15 kantor kas dengan 99 karyawan. Hanya dalam waktu dua tahun, aset Bank Boyolali terus bertumbuh, dan kini masuk daftar BPR dengan aset di bawah Rp250 miliar. Perbandingan kredit konsumtif dan kredit untuk pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sudah 50:50. Padahal, saat awal Pak Dono bergabung, perbandingan kredit mencapai 98 berbanding 2 persen!

Pencapaian yang bisa dibilang luar biasa karena dibutuhkan usaha lebih keras untuk mengembangkan kredit UMKM. Bank Boyolali mungkin diuntungkan dengan banyaknya industri susu sapi di daerahnya. Boyolali memang dikenal sebagai “kota sapi”.

“Industri sapi punya usaha ikutan, di antaranya pembuatan keju atau pakan ternak. Karena itu, kami tidak takut bersaing karena masih banyak pelaku UMKM di daerah kami yang belum tergarap,” ungkapnya.

img_3222

Ke depan, Dono mencanangkan pertumbuhan di atas pertumbuhan rata-rata BPR. Contohnya, bila pertumbuhan rata-rata BPR 10 persen, Bank Boyolali menargetkan diri naik 12 persen. “Pertumbuhan yang tinggi kurang bagus, saya realitis,” kata pria yang mengaku dirinya termasuk pribadi yang perfeksionis ini.

You may also like...

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com