Economic Review – Ekspansi bank umum nasional hingga ke seluruh wilayah terpencil di Tanah Air, dengan produk kredit usaha rakyat (KUR), menjadi tantangan tersendiri bagi bank-bank daerah. Demikian pula yang dirasakan jajaran pengurus PT Bank Pembangunan Daerah Kalimantan Tengah, lebih dikenal sebagai Bank Kalteng.

kalteng

“Pada saat bersamaan, komoditas andalan daerah kami, yakni batubara, mengalami penurunan. Kondisi ini berpengaruh pada semua sektor ikutannya, termasuk angkutan,” kata Direktur Utama Bank Kalteng, Yosapatasi, di Jakarta, Rabu (5/9), saat memaparkan pencapaian tahun 2015 bank yang dipimpinnya di hadapan juri Anugerah Perbankan Indonesia (APBI) 2016, yakni DR. Ayu Ekasari, SE, MM, (Corp. Reporting Expert Universitas Trisakti), Stefanus M.S. Sadana, MSi, (Head of Training & Consulting Perbanas Institute), Ir. Irina Mildawati, MT (Universitas Gunawarman), dan DR. Dewi Hanggraeni, SE, MBA (Direktur Daya Makara Universitas Indonesia).

Untuk menyiasati penurunan komoditas di sektor pertambangan, meski Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai regulator perbankan di Indonesia mengimbau kredit untuk usaha produktif, Bank Kalteng tetap memberi porsi untuk kredit konsumtif. “Bagaimanapun, core Bank Kalsel di kredit konsumtif, terutama bagi pegawai negeri sipil (PNS) di daerah kami,” tuturnya.

Tentu tidak sembarang kredit karena Bank Kalsel juga melakukan pemetaan orang seperti apa yang berhak mendapatkan kredit. Terbukti, tahun 2015, non performing loan (NPL) bank yang memasang tagline Kokoh, Terpercaya, dan Dinamis itu hanya 0,47 persen, jauh di bawah ketentuan maksimal yang disyaratkan OJK.

kalteng2

Ke depan, Yosapatasi akan lebih memberi peluang bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Diungkapkan pria yang berkarier mulai dari level kasir itu, selain menggenjot perekonomian daerah, upaya tersebut perlu dilakukan untuk memperkuat brand awareness alias kesadaran merek Bank Kalteng di tengah masyarakatnya.