Turunnya Harga Tiga Komoditas Utama Berdampak pada Kinerja Bank Kalsel

Economic Review – Anjloknya komoditas utama di Indonesia, yakni sawit, karet, dan batubara, berimbas pada pencapaian PT Bank Pembangunan Daerah Kalimantan Selatan (Bank Kalsel) tahun buku 2015. Laba tahun buku 2015 turun hingga 38 persen dari tahun sebelumnya. Berita baiknya, hingga Juni 2016, Bank Kalsel sudah melampaui pencapaian bulan yang sama tahun 2015. Mereka sudah bertekad menggenjot sisa waktu hingga akhir tahun ini untuk memperbaiki situasi.

Irfan, Direktur Utama Bank Kalsel, mengungkapkan kondisi tersebut di hadapan dewan juri Anugerah Perbankan Indonesia (APBI) 2016, Jumat (30/8) lalu. Meski sedang sakit tenggorokan sehingga suaranya tidak keluar, Irfan tetap bersemangat menjawab pertanyaan dewan juri. Dirinya ditemani Supian Noor, (Direktur Bisnis dan Syariah), IGK Prasetya (Direktur Kepatuhan), dan M. Fauzan Noor (Pemimpin Devisi Perencanaan dan Strategi).

 bank3-kalsel

Secara umum, Non Performing Loan (NPL) alias kredit macet Bank Kalsel cukup tinggi, mencapai 4,33 persen. “Selain imbas dari anjoknya harga tiga komoditas utama, kebijakan memberikan kredit ke sektor produktif yang mencapai kisaran perbandingan 60:40 dengan kredit di sektor konsumtif, yang juga mempengaruhi capaian kami,” kata Supian.

Dalam kesempatan tersebut Fauzan menjelaskan, berdasarkan Undang-Undang (UU) Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (PT), bank tidak diwajibkan melaksanakan kegiatan CSR. Meski demikian, sebagai bentuk kepedulian sosial dan lingkungan, atas izin pemegang saham dalam RUPS, bank yang punya tagline “Untuk Banua yang Lebih Baik” itu menyediakan dana Rp 3 hingga 5 miliar bagi kegiatan CSR di sektor bisnis dengan memberikan pinjaman kepada pengusaha pemula di bidang UMKM.

Di bagian akhir penjurian, Irfan mengikuti tes aura untuk mengetahui model kepemimpinannya.

bank2-kalsel