unnamedEconomic Review-Trend Micro Incorporated (TYO: 4704; TSE:4704), melalui CLOUDSEC 2016, konferensi keamanan internet terakbar di kawasan Asia Pasifik dan Eropa, menggalang ahli-ahli terkemuka serta thought leader ternama di industri keamanan tingkat dunia dalam rangka mendukung lembaga maupun perusahaan serta menyerukan kepada mereka untuk Ambil Kendali” secara penuh dalam melawan kejahatan siber yang kini makin gencar, seperti yang ditunjukkan melalui tren perpetaan ancaman siber yang meningkat. 

Andreas Kagawa, Country Manager, Trend Micro Indonesia mengatakan mengelola dan memberdayakan karyawan dengan pola pikir dan kecakapan teknis soal keamanan seharusnya dijadikan sebagai prioritas utama bagi perusahaan, manusia, teknologi, dan proses memiliki peranan yang sama penting dalam memastikan terjaminnya keamanan di jaringan perusahaan. “Melalui konferensi keamanan akbar seperti CLOUDSEC, perusahaan bersama-sama dengan para ahli dapat saling menimba pengalaman berharga dan bersama-sama membentuk strategi pertahanan keamanan siber yang paling efisien”.

Di sisi lain, perhelatan keamanan siber terakbar ini juga bertujuan untuk membekali perusahaan dengan pemahaman dan pengetahuan yang lebih mendalam mengenai keamanan informasi dan manajemen risiko yang dapat mereka terapkan nantinya. Tahun ini, CLOUDSEC telah memasuki tahun keenam dalam penyelenggaraannya.

Big data, cloud computing, mobility dan Internet of Things dihadapkan pada ancaman-ancaman siber yang kini menunjukkan peningkatan luar biasa dalam hal kecanggihannya. Perampokan data, ransomware, serta penipuan online makin marak dan membawa ancaman serta risiko yang besar bagi kelangsungan perusahaan di masa kini.

Hal ini selaras pula dengan laporan Gartner, bahwa di tahun 2020, sebesar 60 persen dari digital business yang ada diprediksikan bakal mengalami kegagalan besar dalam menyelenggarakan layanan akibat kekurangsigapan tim keamanan IT perusahaan dalam mengelola risiko digital.

Meskipun demikian, terlepas dari meningkatnya ancaman siber, perusahaan sendiri dirasa tidak cukup sigap dalam mengambil tindakan. Dari survei tolok ukur yang diselenggarakan oleh Trend Micro baru-baru ini terungkap bahwa hanya 1 dari 10 perusahaan di kawasan Asia Pasifik atau kurang dari angka tersebut memahami bagaimana serangan siber dilakukan dan hampir 50 persennya ternyata tidak memiliki program kesadaran keamanan di perusahaan mereka, hingga akibatnya sekitar 59 persen dari perusahaan-perusahaan tersebut mengungkapkan bahwa karyawan mereka yang memiliki pemahaman yang rendah soal keamananlah yang menjadi ancaman keamanan siber terbesar dari sisi dalam perusahaan sendiri.