Dhanya Thakkar dan Andreas KagawaEconomic Review – Dengan makin terkuaknya varian baru ransomware yang kian gencar membidikkan sasaran mereka ke perusahaan, Trend Micro (TYO: 4704; TSE: 4704), pemimpin global di kancah software dan solusi keamanan, bersamaan dengan digelarnya acara pembukaan kantor barunya di Jakarta, menyampaikan agar pengguna dapat meningkatkan kewaspadaan mereka akan aksi-aksi baru ransomware yang lebih jahat serta terhadap upaya penjahat siber dalam merancang operasi yang kian canggih untuk melancarkan ransomware.

Untuk itulah, Trend Micro menyarankan kepada pengguna untuk terus membekali diri dengan pengetahuan yang lengkap mengenainya dan menerapkan strategi keamanan berlapis di lingkungan organisasi maupun lembaga mereka.

Managing Director and VP, Asia Pacific at Trend Micro Dhanya Thakkar menuturkan, seperti yang telah diprediksikan sebelumnya oleh Trend Micro1, tahun ini dunia keamanan siber akan diwarnai dengan maraknya pemerasan melalui online dengan memanfaatkan ransomware. “Meskipun industri keamanan sendiri tak henti-hentinya melakukan beragam upaya untuk menelurkan strategi-strategi dan solusi-solusi baru dalam rangka memeranginya, namun di sisi lain, kurang teredukasinya masyarakat dan perusahaan akan ancaman ransomware serta langkah-langkah pencegahannya, menjadikan mereka sebagai pihak-pihak yang rentan terhadap ancaman malware yang dampaknya tidak saja dapat menghancurkan file-file penting milik mereka, namun lebih jauh lagi, memiliki potensi yang mengakibatkan kerugian finansial yang tidak kecil”.

Hal yang lebih mencengangkan lagi adalah fakta bahwa tak sedikit perusahaan yang lebih rela untuk membayar tebusan bila ternyata di kemudian hari data mereka berhasil dirampas dan digunakan untuk memeras mereka, alih-alih memperkokoh strategi pencegahan dini dari ancaman kejahatan siber.

Institute for Critical Infrastructure Technology (ICIT) pernah mengungkapkan temuan mereka di sepanjang 2015, bahwa korban kejahatan diperas untuk membayar sejumlah uang yang besarnya antara $21 hingga $700 agar file-file penting perusahaan mereka yang dicuri bisa kembali.

Besarnya tebusan itu sendiri biasanya tergantung pada varian ransomware atau sekehendak penjahatnya, jenis perangkat yang terinfeksi, atau demografik dari korbannya itu sendiri. Data yang dilansir dari lembaga Internet Crime Complaint Center (IC3) FBI Amerika memperlihatkan adanya kerugian dengan total lebih dari $18 juta yang diakibatkan oleh varian CryptoWall ransomware berdasarkan laporan dari para korban sejak April 2014 hingga Juni 2015.